Berita BPPT

Berdasarkan pantauan satelit NOAA-18, sejak 1 Januari hingga 27 Agustus 2016 total hotspot di Wilayah Sumatera sebanyak 971 titik dan di Wilayah Kalimantan sebanyak 1248 titik dimana terjadi peningkatan jumlah hotspot yang cukup signifikan di wilayah Kalimantan pada bulan Agustus 2016.  Dengan memerhatikan kondisi hotspot beberapa hari yang lalu, hotspot historis dan prediksi kondisi atmosfir ke depan untuk wilayah Kalimantan pada umumnya dan Kalimantan Barat khususnya yang memasuki musim kemarau, maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau sering dikenal dengan istilah hujan buatan dalam rangka siaga darurat kebakaran hutan dan lahan untuk mengoptimalkan potensi awan menjadi hujan. Belajar dari pengalaman tahun 2015 dimana pada musim kemarau terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah hingga menyebabkan kegiatan penerbangan di Bandara Supadio, Pontianak terganggu selama beberapa hari, maka TMC perlu dilaksanakan sebagai langkah antisipasi untuk pembasahan lahan-lahan gambut dan pengisian embung-embung penampungan air untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali yang dapat menimbulkan bencana asap yang bisa mengganggu aktifitas penerbangan, dan bahkan bisa mengganggu kesehatan masyarakat.

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah suatu bentuk upaya intervensi manusia pada sistem awan untuk meningkatkan intensitas curah hujan dan/atau mempercepat proses hujan di suatu tempat. TMC dilakukan dengan meniru proses alamiah yang terjadi di dalam awan. Sejumlah partikel higroskopis yang dibawa dengan pesawat sengaja ditaburkan langsung ke dalam awan jenis Cumulus (awan hujan) agar pertumbuhan awan lebih efektif dan proses hujan menjadi lebih cepat serta menghasilkan curah hujan yang lebih banyak. Dalam hal ini, hujan yang terjadi diharapkan akan dapat mengisi embung-embung, pembasahan tanah dan bahkan hujan tersebut akan memadamkan sejumlah hotspot yang ada, menipiskan kabut asap yang kerap mengganggu kesehatan dan aktivitas penerbangan serta meningkatkan visibility (jarak pandang)

Secara regulasi, peranan TMC untuk mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan telah tertuang dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2011 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, dimana Presiden RI memberikan instruksi kepada Menteri Riset dan Teknologi untuk melakukan koordinasi dalam pemberian bantuan penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan menggunakan teknologi pembuatan hujan buatan.

Pelaksanaan operasi TMC di Provinsi Kalimantan Barat ini dibuka oleh Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB pada tanggal 30 Agustus 2016, yang dihadiri oleh Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA), Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC), Danlanud Supadio Pontianak, BPBD, BMKG, perwakilan Universits Tanjungpura Pontianak dll.  Operasi TMC ini akan dikendalikan dari Posko yang bertempat di Lanud Supadio.  Untuk membantu pengamatan cuaca dan kondisi awan di wilayah target, telah ditempatkan personil di 2 lokasi Pos Pengamatan Meteorologi (Posmet), yaitu di daerah Sekadau dan Sandai Ketapang. Hasil pengamatan cuaca dan potensi awan hujan akan dilaporkan setiap saat oleh petugas di Posmet kepada Tim Pelaksana di Posko, untuk dianalisis dan dijadikan sebagai masukan guna menentukan strategi pelaksanaan penyemaian awan setiap harinya. BB-TMC BPPT juga bekerjasama dengan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) untuk memanfaatkan data radar cuaca Stasiun Meteorologi Pontianak. Operasi ini akan didukung oleh satu unit pesawat jenis CASA milik TNI AU dari Skadron 4. Bahan semai yang digunakan adalah garam (NaCl) berbentuk powder dengan ukuran butir yang sangat halus (orde mikron).

Sumber : http://wxmod.bppt.go.id/index.php/34-berita/berita-internal/233-penerapan-teknologi-modifikasi-cuaca-untuk-siaga-darurat-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-provinsi-kalimantan-barat-agustus-2016

May 21, 2017

Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca Untuk Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Kalimantan Barat, Agustus 2016

Berdasarkan pantauan satelit NOAA-18, sejak 1 Januari hingga 27 Agustus 2016 total hotspot di Wilayah Sumatera sebanyak 971 titik dan di Wilayah Kalimantan sebanyak 1248 titik […]