Kanker dapat diatasi dengan Teknologi BNCT buatan Indonesia

image001

Innovation value merupakan sebuah komponen penting yang menentukan kemajuan peradaban suatu bangsa. Dengan budaya aktif berinovasi yang dimiliki oleh sebuah negara, akan tercipta daya saing bangsa sehingga sebuah negara dapat eksis di kancah dunia. Dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025, Negara harus mendorong pertumbuhan daya saing bangsanya di tingkat global melalui strategi innovative driven yang mengedepankan nilai inovasi dan riset. Namun, berdasarkan data dari Global Innovative Index, pada tahun 2013 Indonesia hanya menduduki peringkat ke 85 dari 142 negara. Maka dari itu, pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan bidang yang menjadi salah satu komponen penting dalam pengembangan inovasi. Secara eksplisit, pengembangan IPTEK di bidang kesehatan obat untuk mendorong kemandirian bangsa tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2009-2019.

Kanker adalah “tumor ganas” yang tumbuh akibat pembelahan sel yang tidak normal dan tidak terkontrol, proyeksi World Health Organization (WHO) pada tahun 2030 jumlah penderita kanker di Indonesia sangat tinggi dan pengobatannya hingga sampai saat ini belum terpenuhi secara kualitas dan kuantitas, namun penyakit ini telah menjadi monster menakutkan, menggeser posisi penyakit jantung, dan menduduki tingkat bahaya tertinggi di Indonesia. Sehingga para peneliti dan pakar di bidang penyakit ini berlomba mencari cara terbaik agar penyakit ini tidak tumbuh subur, baik dari segi pencegahan maupun tindakan.

Dari segi pencegahannya, telah banyak dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mencegah sekaligus menghindari terjangkitnya penyakit ini. Hasil identifikasi bahwa banyak makanan yang mengandung zat-zat pelindung yang bisa mengurangi kerusakan jaringan akibat radikal bebas atau berpotensi mengurangi pertumbuhan seperti antioksidan yang di dalamnya mengadung vitamin C dan E dari sayuran, fetoestrogen di produksi oleh tubuh berkaitan dengan protein dan serat, senyawa bioaktif yang terdapat dalam ekstract bawang putih, maupun makanan kaya karbohidrat dan protein. Sedangkan upaya tindakan telah banyak diciptakan berbagai obat pencegah kanker dan dan alat kesehatan lainnya.

BNCT (Boron Neutron Capture Cancer Therapy) adalah salah satu metode terapi yang berbasis target, dapat menjangkau sampai sel akar kanker lokal. Ada empat keunggulan terapi BNCT yaitu: (1) Boron untuk batas tertentu bukan merupakan unsur yang toxic , (2) Boron hanya terdeposit di lokasi sel kanker yang teraktivasi oleh neutron, (3) Partikel alfa yang dipancarkan oleh Boron yang teraktivasi mempunyai jangkauan hanya dalam orde beberapa micro meter sehingga perusakan jaringan kanker bersifat lokal sehingga jaringan sehat tetap aman dan (4) Boron yang teraktivasi mempunyai umur paro beberapa nano detik sehingga dalam sekejab aktivitasnya nol.

Secara teknis, keberhasilan aplikasi terapi BNCT ditentukan oleh ketersediaan senyawa Boron dan sumber neutron. Dari hasil penelitian yang dikembangkan oleh para pakar dari Konsorsium di bidang ini, telah terpilih senyawa berbasis analog kurkumin sebagai carier untuk membawa Boron ke sel kanker. Senyawa tersebut berupa mitokimia yang telah diketahui berpotensi sebagai senyawa antikanker terutama kanker payudara yang dapat mengenali target secara spesifik. Sedang sebagai sumber energi untuk mematikan penyakit kanker adalah neutron dari Accellerator Driven Compact Neutron Generator (CNG) yang sudah proven dan lebih fleksibel digunakan di rumah sakit. Di tahap penelitian, sementara digunakan fasilitas reaktor Nuklir (Reaktor Kartini) di Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan secara paralel dikembangkan komponen kandungan lokal sebagai penyusun CNG. Dari hasil penelitian tersebut telah ditemukan produk peralatan yang sangat memuaskan.

Terapi kanker ini memiliki tingkat generasi teknologi sangat modern dengan memadukan cyclotron sebagai sumber neutron dengan senyawa boron carrying pharmaceuticals. Keberhasilan pengembangan BNCT ini telah mengangkat beberapa negara maju seperti Jepang, Taiwan, Amerika, dan beberapa negara di Eropa dalam pengembangan obat kanker. Hal ini mendorong beberapa peneliti di Indonesia untuk berkomitmen dalam mengembangkan BNCT di Indonesia. Tahun 2014 telah terbentuk tim konsorsium Sistem Inovasi Nasional oleh Kementerian Riset dan Teknologi dengan judul “Pengembangan Teknologi Dan Aplikasi Boron Neutron Capture Cancer Therapy dengan Compact Neutron Generator”.

Konsorsium ini terbagi menjadi dua kelompok besar. BATAN bertugas mengembangkan penembak neutron menggunakan cyclotron, sedangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) bertugas dalam pengembangan obat kanker boron carrying pharmaceuticals. Kini, UGM telah berhasil mengembangkan boron carrying pharmaceuticals dari senyawa analog kurkumin yang potensial. Namun, dalam riset BNCT di Indonesia ini mengalami beberapa kendala, dikarenakan keterbatasan fasilitas dan kurangnya pengalaman dalam pengembangan obat kanker BNCT. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya percepatan sehingga riset obat kanker BNCT di Indonesia bisa lebih berkembang.

Mengingat kanker adalah pembunuh umat manusia nomor dua setelah jantung dan untuk terapinya hingga sampai saat ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut baik kapasitas dan kualitasnya, maka kehadiran teknologi BNCT di Indonesia akan melengkapi sarana penunjang medik terapi kanker dengan kelebihan antara lain bersifat “cell targeting”, yang berarti hanya sel kanker yang akan mati sedangkan sel yang sehat tetap aman. Semoga dengan BNCT dapat mengantarkan para ilmuwan di berbagai bidang kompetensi seperti Fisika, Farmasi, Kedokteran, Kimia Radiasi, Biologi Radiasi, Teknik Mesin dan Elektro, Instrumentasi Nuklir, dan Keselamatan Radiasi dalam melakukan pemahaman design teknologi, dan aplikasi teknologi BNCT di Indonesia dengan sukses dan endingnya dapat menyelamatkan penderita kanker dan menekan pembiayaan obat kanker yang sebagai penyedot BPJS urutan ke 3 setelah hemodialisis dan penyakit jantung.

Akhir kata, kedaulatan, kemandirian dan kepribadian dalam budaya perlu terus ditingkatkan. Salah satu bukti menuju Kemandirian dibidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diantaranya adalah hasil penelitian sementara dari kerjasama Konsorsium dibidang Penelitian, Pengembangan dan Pemanfaatan Iptek Boron Neutron Capture Cancer Therapy, telah dibangun selama 3 tahun, melibatkan berbagai institusi baik pemerintah maupun dunia usaha dan Swasta, diantaranya Kimia Farma, BATAN, Pemprov Kalimantan Barat serta berbagai Universitas antara lain UGM, UKSW, UNY, ITY, Unsoed dan lain-lain. Kerjasama dan keberpihakan pemerintah masih sangat diperlukan dalam mendapatkan ruang dan iklim kondusif serta meningkatkan kohesi sosial dengan berbagai pihak dalam rangka mewujudkan hasil akhir dari penelitian ini. Insha Allah…

*) Dr. Ir. Agus Puji Prasetyono

Staf Ahli Menteri Bidang Relevansi dan Produktivitas, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Republik Indonesia