Mengganti Energi Tenaga Nuklir Dengan Energi Tenaga Angin Melipatgandakan Emisi Karbondioksida

16062016_ilustrasiPLTN

Mengganti pembangkit listrik tenaga nuklir dengan pembangkit tenaga angin akan mendorong tingginya tingkat emisi karbondioksida di Swedia, menurut hasil studi yang dikeluarkan oleh peneliti dari institut Max Planck dan Institut teknologi Royal. Dalam studi tersebut dijelaskan bahwa dengan mengganti pembangkit listrik tenaga nuklir dengan pembangkit listrik tenaga angin akan membuat ketersediaan listrik di Swedia menjadi tidak bisa diandalkan. Diperlukan pembangkit listrik berbahan bakar gas alam dan batubara untuk menunjangnya, dan kondisi itu otomatis akan menyebabkan lebih banyak lagi emisi karbondioksida. Hasil studi ini dipublikasikan pada the peer-reviewed European Physical Journal Plus.

Swedia mendapatkan mayoritas energy listriknya dari pembangkit listrik tenaga hydro dan tenaga nuklir, ini yang menyebabkan swedia hanya sedikit menghasilkan emisi karbondioksida. Di hitung secara per kapita swedia mengkonsumsi jumlah yang sangat besar untuk energy listrik, dan penggunaan pembangkit listrik tenaga hydro dan tenaga nuklir membuat swedia menjadi Negara penghasil emisi karbon yang rendah dibanding Negara Negara lainnya. Saat ini terdapat 9 reaktor nuklir yang beroperasi di swedia dan menyuplai sekitar 40% dari kebutuhan energy listriknya.

Meskipun swedia memiliki tingkat emisi karbondioksida rendah yang disebabkan pemakaian pembangkit tenaga hydro dan tenaga nuklir, para pecinta lingkungan hidup disana masih terus mendorong pemerintah secara bertahap meninggalkan penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir sejak pertengahan tahun 1970. Swedia pernah mengadakan referendum terkait pengurangan secara bertahap pemakaian energy nuklir pada tahun 1980 yang menghasilkan penolakan, namun belakangan penolakan tersebut dinilai tidak layak dan bertolak belakang terkait dengan kebutuhan energy swedia.

Pengalaman dunia membuktikan hasil dari studi tersebut, dimana Jerman, satu satunya Negara besar di eropa yang memutuskan untuk melakukan transisi sumber energy dengan mengurangi penggunaan energy nuklir mengalami peningkatan emisi karbondioksida secara drastis sebagai hasilnya. Penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir menyumbang kebutuhan energy jerman sebanyak 29.5 % pada tahun 2000 dan pada tahun 2015 menurun menjadi 16%. Penurunan ini disebabkan penggunaan sumber energy listrik dialihkan kepada pembangkit listrik berbahan bakar batubara, yang sekarang menyumbang 44% dari pemenuhan kebutuhan energy jerman. Pengalihan inilah yang menyebabkan kenaikan emisi karbondioksida jerman sebanyak 28 juta ton per tahunnya.

Penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir menyebabkan defisit yang besar terhadap ketersediaan energi nasional di jerman, selain itu juga menyebabkan kerugian finansial dan memicu kenaikan harga listrik. Di sisi lain pemerintah jerman mengamanatkan kebijakan pengalihan penggunaan sumber energy nuklir ke penggunaan sumber energy “hijau”, namun kebijakan tersebut membutuhkan anggaran yang sangat besar, mencapai hingga $1.1 trilyun. akibatnya pemerintah jerman merencanakan untuk memberhentikan secara bertahap penggunaan pembangkit listrik tenaga anginnya yang mencapai kapasitas 6000 megawatt hingga tahun 2019.

Sumber :

http://dailycaller.com/2016/06/14/study-replacing-nuclear-with-wind-would-double-co2-emissions/

http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/manajemen/hhk/2360-mengganti-energi-tenaga-nuklir-dengan-energi-tenaga-angin-melipatgandakan-emisi-karbondioksida#sthash.XUthrA28.dpuf