Budaya Instan di Era Modern Masyarakat Indonesia

instan-K

Budaya instan atau budaya sekali pakai semakin menjamur dan sangat digemari masyarakat Indonesia khususnya yang hidup diperkotaan bahkan saat ini telah menjamur sampai ke luar masyarakat perkotaan Indonesia. Kita pun dapat melihat dan merasakan bahwa air mineral kemasan isi ulang dan mie instan sudah sampai ke desa-desa bahkan ke masyarkat tradisional sekalipun. Budaya instant atau budaya sekali pakai merupakan cerminan kehidupan modern saat ini. Di negara-negara maju sangatlah terlihat jelas bahwa semua kehidupan serba dibikin cepat, instan dan sekali pakai. Kita harus sadari bahwa budaya ini bukanlah budaya murni bangsa Indonesia karena budaya ini bisa merubah manusia menjadi sangat egoistis dalam artian tidak memperdulikan sesama atau yang lainnya dan terkesan ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Budaya instan adalah budaya yang berasal dari luar negeri dengan seiring perkembangan berbagai peralatan modern, perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi, dan juga hasil temuan sumber-sumber daya modern seperti produk turunan dari hasil pengolahan minyak bumi yang dapat memproduksi Styrofoam, plastik dll.

Pada dasarnya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang mempunyai sifat gotong royong, saling menolong dan mau bekerjasama satu sama lainnya, demikian juga masyarakat Indonesia yang di pedesaan, dalam bekerja saling setia membantu seperti yang dicontohkan di masyarakat adat Batak yang mempunyai istilah budaya “marsiapari” yang artinya bahwa “setiap masyarakat desa secara bersama-sama menggarap sawahnya masing-masing sehingga pekerjaan tersebut dapat terselesaikan dengan cepat,  misalnya sekelompok masyarakat menggarap satu petak sawah milik kelompok tersebut setelah itu bergilir bergantian menggarap sawah kelompok lainnya”. Budaya ini bisa menjadi contoh yang harus kita jaga dan lestarikan sehingga walaupun budaya instan atau budaya sekali pakai masuk ke Indonesia namun budaya tradional bangsa Indonesia tidak boleh punah atau hilang begitu saja.
Belakangan ini tersebar berita tentang “air mineral kemasan isi ulang palsu” setelah ditelisik dan dianalisis ternyata sumber air tersebut bukanlah dari mata air pegunungan seperti yang ada di air mineral kemasan yang semestinya melainkan dari air sungai atau air sumur yang tidak mengalami pengolahan.  Air tersebut sudah pasti tidak dapat dijamin kualitas dan dan kebersihannya, bahkan ada kemungkinan bakteri coliform, virus, logam berat dan polutan air lainnya berada di dalam air tersebut. Cara si pelaku pembuat air mineral kemasan palsu dengan cara menggunakan gallon atau botol plastik dari bahan bekas kemudian hanya dicuci bersih saja sampai terlihat seperti baru tanpa dilakukannya pembersihan sterilisasi yang baik dan semestinya sehingga ini bisa menyebabkan air kemasan itu makin berbahaya untuk dikonsumsi. Air  yang diisikan kedalam gallon atau botol bekas tersebut adalah air yang diambil langsung dari Air sungai atau air pendingin tower yang mana air-air tersebut sangat tidak steril. kemudian si pelaku menambahkan bahan kimia tawas dan boraks untuk mengendapkan padatan tersuspensi agar air mineral kemasan terlihat bening dan bersih, secara keilmuan cara ini tidak dapat mematikan bakteri pathogen yang ada didalam air tersebut. Sungguh ini adalah perbuatan yang tidak bertanggungjawab dari si pelaku, Tak heran jika kemudian banyak konsumen yang tertipu dan terpedaya bahkan kemungkinan terkena penyakit berbahaya, seperti disentri, diare dan lainnya karena tidak mengira air mineral kemasan yang dibelinya adalah palsu.

Zaman dahulu di Indonesia banyak produk atau barang yang diproduksi dan digunakan oleh masyarakat yang isinya diganti secara berulang-ulang namun kemasannya tetap, contohnya seperti pena dan isinya, namun sekarang hampir semua jenis pena/pulpen sekali pakai langsung dibuang. Selain itu dahulu seseorang mengalami kesakitan pada saat disuntik dikarenakan kemungkinan jarum suntik yang dipakai sudah digunakan berkali-kali sehingga jarum suntik tersebut sudah tumpul dan menyebabkan rasa sakit bagi si penderita, hal ini juga berbahaya jika tidak dilakukan sterilisasi dan bebas hama, selain itu jarum suntik bekas bisa menularkan penyakit. Yang harus kita pahami bahwa pada zaman dulu banyak orang berfikir hemat, dan ini mungkin akibat dari minimnya pendapatan, susahnya mendapat produk untuk kebutuhan pengobatan, makanan dll, namun saat ini hampir setiap orang lebih memilih berfikir praktis.

Pada suatu waktu penulis menghadiri sebuah acara pesta perkawinan, disitu ada hal yang menarik perhatian bahwa hampir semua tempat hidangan, tempat air minum, menggunakan kemasan yang sekali pakai. Air minumnya menggunakan air botol kemasan, piringnya menggunakan piring dari Styrofoam, bahkan sendok dan garpunya menggunakan dari plastik yang sekali pakai. Makin modern orang makin berada dalam masyarakat yang sekali pakai. Lebih praktis, gampang dan sederhana. Sekarang ini betapa telah merajalelanya barang-barang sekali pakai. Ada popok bayi sekali pakai, untuk orang tua yang tidak mau repot mencuci ada pakain dalam sekali pakai, untuk mereka yang sering bepergian ada gaun pengantin sekali pakai bagi mereka yang tidak mau keluar uang banyak untuk yang dipakai selama beberapa jam saja. Di satu sisi budaya sekali pakai memang ada manfaatnya. Hidup menjadi praktis dan cepat. Bukankah salah satu ciri manusia post modern adalah produktivitasnya?. Ingin menghasilkan sebanyak-banyaknya dalam waktu yang secepat-cepatnya. Namun jangan lupa bahwa budaya sekali pakai ini memunculkan budaya “lalu buang”.

Masyarakat zaman sekarang adalah masyarakat yang banyak membuang dan gampang membuang. Akibatnya adalah sampah yang menumpuk dan limbah berbahaya menumpuk dimana-mana dan makin sulit untuk ditangani. Orang modern bisa saja mendarat di bulan atau menyelam didasar laut yang paling dalam, tetapi tetap tidak mampu mengatasi masalah sampah, limbah bahan berbahaya beracun dan limbah-limbah lainnya. Toh sebenarnya ada yang lebih mengerikan dari budaya hidup sekali buang selain masalah sampah yaitu ketika manusia juga diperlakukan sama seperti sampah. Ketika manusia semakin tidak dihargai,  setelah tak berguna, langsung dibuang. Bukankah itu yang sedang kita alami dan saksikan akhir-akhir ini? Begitu banyak kisah kriminal, kejahatan, pembunuhan, bahkan perkawinan diakhiri perceraian yang seolah memperlakukan manusia seperti barang sekali pakai lalu dibuang.

Tahukah anda bahwa semakin menggilanya penggunaan barang sekali pakai akan menyebabkan bencana di lingkungan kita? Penggunaan Plastic, Styrofoam, popok bayi, suntik sekali pakai, air kemasan, aluminium yang semakin meningkat, sedangkan kemampuan Pemerintah khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengelola dan menangani limbahnya belum optimal, bahkan kalau dibiarkan akan dapat menyebabkan dampak yang dasyat seperti dioksin (racun yang menyebabkan kanker) akan di produksi oleh sampah plastik, Styrofoam dan lainnya. Penggunaan plastik di super/mini market yang telah dikenakan biaya Rp. 200 per lembar saat ini sudah semakin redup pelaksanaannya. Awal pemberlakuan penggunaan plastik berbayar sangat membuat senang penulis dan beberapa pihak peduli lingkungan lainnya. Tindakan Pemerintah mempunyai minimal effort untuk dapat mengurangi penggunaan plastik, sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa plastik akan menjadi bencana apabila tidak dikelola dengan baik dan benar.

 

Sumber : http://pusarpedal.menlh.go.id/?p=4072