RDE Wujud dari Pelaksanaan RUEN

05092016_bahari

(Jakarta, 05/09/2016) Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sudah dibahas oleh Dewan energi Nasional (DEN) melalui sidang yang dipimpin langsung oleh Presiden Jokowi pada tanggal 22 Juni 2016. Beberapa poin penting dalam RUEN diantaranya perlu dibuatkan roadmap (peta jalan) dalam pengembangan opsi nuklir sebagai pemenuhan kebutuhan energi nasional. Nuklir sebagai pilihan terakhir oleh RUEN diterjemahakan dengan membangun reaktor daya riset dan laboratorium reaktor selain itu juga perlu meningkatkan kerja sama dengan pihak luar negeri.

Untuk melaksanakan keputusan dalam RUEN tersebut, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) akan membangun Reaktor Daya Eksperimen (RDE) dengan kapasitas listrik sekitar 3,5 MWe di Kawasan Puspiptek, Serpong Tangerang. Hal ini dikatakan oleh CEO Project Management Office (PMO), Taswanda Taryo dalam diskusi yang bertajuk menyikapi putusan pemerintah tentang kebijakan energi nasional di Restoran Raden Bahari, Jl. Buncit Raya 135, Jakarta Selatan (Senin, 05/09).

Menurut Taswanda, pembangunngan RDE yang membutuhkan dana sekitar 2 triliun ditargetkan 40 persen dibiayai oleh negeri dan sisanya 60 persen dari luar negeri melalui kerja sama government to government dan diharapkan selesai pada tahun 2021. RDE diharapkan dapat menjadi contoh dalam membangun RDE berikutnya dengan daya yang lebih besar di daerah lain.

“Ini adalah sebagai sebuah master kalau nanti kita ingin membangun reaktor sejenis, mungkin dengan daya yang lebih besar terutama di Indonesia bagian timur. Selain itu pembangunan RDE juga sebagai pembelajaran bagi human resource yang ada di indonensia baik di bidang nuklir maupun non nuklir seperti teknik sipilnya,” katanya.

Hal senada juga dikatakan oleh Ketua Komisi Energi, Dewan Riset Nasional, Arnold Y. Soetrisnanto bahwa pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi listrik sudah harus dimulai untuk membantu pemenuhan kebutuhan energi nasional.

Menyikapi Kebijakan Energi Nasional, Arnold mengatakan kalau nuklir dijadikan pilihan terakhir adalah sesuatu yang tidak ilmiah. “pilihan terakhir tidak bisa diukur, sesuatu yang ilmiah harus bisa diukur, kapan, dimana, bagaimana, apa, dan siapa yang melakukan semua harus dapat diukur,” katanya.

Apalagi melihat target tahun 2025 bahwa pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 23 persen, sedangkan target sebelumnya hanya 5 persen dan nuklir hanya sebagai pilihan terakhir. Dengan menjadikan nuklir sebagai pilihan terakhir, ini merupakan diskriminasi energi. Mustahil target 23 persen dapat tercapai tanpa nuklir. (pur)

Sumber: http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/manajemen/hhk/2619-laksanakan-ruen-dengan-membangun-rde#sthash.DCyUYzcM.dpuf