Kembangkan Technopreneurship, Indonesia Berguru dari Swiss

2jKDtYFQWh

Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) menerima kunjungan dari University of Applied Sciences and Arts Nortwestern Switzerland (FHNW) di Gedung TBI Center, Kawasan Puspiptek Serpong, Banten, Selasa, 12 April 2017.

Kunjungan tersebut merupakan bentuk kerja sama antara kedua belah pihak melalui program ExploreAsean.¬†Kunjungan sekaligus seminar bertajuk “Seminar on Technopreneurship Indonesia-Switzerland” melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Bina Nusantara (Binus), Universitas Multimedia Nusantaara (UMN), Swiss German University (SGU), Universitas Pamulang, dan Institut Teknologi Indonesia.

Kepala Puspiptek Sri Setiawati mengatakan, seminar ini bertujuan sebagai wadah bertukar informasi dan praktik terbaik penumbuhan wirausaha baru (startup company) berbasis teknologi, khususnya di kalangan mahasiswa. Selain itu, berfungsi untuk memperluas jaringan kerja sama antara Puspiptek, FHNW, dan pelaku bisnis/startup, serta menjadi ajang tukar pengalaman tentang budaya bisnis di Indonesia dan Swiss.

“Ini kesempatan. Bagaimana Puspiptek mencoba mengkomersialkan hasil penelitian yang ada, karena kita punya kawasan yang besar. Jadi, ini kesempatan untuk saling berbagi pengetahuan, walaupun enggak bisa apple to apple,” ujar Sri Setiawati, ditemui di sela-sela acara.

Sri menjelaskan, Eropa khususnya Swiss, sangat maju di bidang teknologi. Swiss memiliki banyak teknopreneur yang berpengaruh besar bagi pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, Indonesia bisa menimba ilmu manajemen konsep dari Swiss.

“Generasi baru yang kita pertemukan (mahasiswa). Jadi, mereka (Swiss) datang ke sini bersama para mahasiswa dan para lecturer-nya bertemu dengan mahasiswa kita, meskipun waktunya sempit. Setidaknya mereka mendapatkan pengetahuan dan budaya kita di sini,” ucap Sri.

Puspiptek dan FHNW memiliki semangat yang sama bahwa kemampuan teknopreneur harus dimiliki sejak dini, khususnya di bangku kuliah. Wirausaha berbasis teknologi bisa dibilang selalu terdepan dalam menjual produk karena memiliki nilai tambah lebih untuk konsumen.

“Kita biasanya hanya ekspor bahan mentah saja. Nanti kita bisa juga mengekspor bahan jadi dengan teknologi, sehingga ada nilai tambahnya. Seperti kelapa sawit bisa dijual untuk kosmetik,” kata Sri.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pembelajaran Kemenristekdikti Paristiyanti Nurwardani mengatakan, kehadiran FHNW merupakan kesempatan emas untuk berkolaborasi dengan Puspiptek agar mampu mengubah pola pikir mahasiswa bahwa ketika sudah lulus nanti, tidak harus menjadi pegawai. Mereka harus menjadi kreator berbasis teknologi.

“Sejak di bangku kuliah sudah ada ide, kemudian input data, dan analisis. Selain itu, harus ada eksperimen, sehingga teknologi bisa bermanfaat bagi masyarakat,” kata Paristiyanti Nurwardani, yang akrab disapa Paris.

Memanfaatkan teknologi untuk wirausaha bisa membuat seseorang menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Apalagi pada zaman digital sekarang ini, orang lebih mudah menjual produknya melalui sistem online.

Dengan adanya kerja sama semacam ini, diharapkan technopreneurship asal Indonesia akan semakin banyak dan mampu menggerakan roda perekonomian. Saat ini, technopreneurship Indonesia tercatat belum mencapai tiga persen.

“Ke depan harapannya pertumbuhan mencapai 10 persen. Saat ini, jumlah technopreneurship di Indonesia 1,6 persen, Malaysia sekitar tujuh persen, dan Amerika 25 persen. Diharapkan hingga 2019, bisa mencapai 3-4 persen,” ucap Paris menjelaskan.

Seminar on Technopreneurship Indonesia-Switzerland diikuti oleh sekitar 100 perserta yang terdiri dari para mahasiswa, dosen, tenan inkubator, serta pelaku bisnis pemula termasuk 20 mahasiswa dan enam dosen dari FHNW.

Sumber : http://news.metrotvnews.com/peristiwa/4KZE7Rrk-kembangkan-technopreneurship-indonesia-berguru-dari-swiss