Apa Saja Manfaat Nano Teknologi di Bidang Pangan, Kosmetik, dan Kesehatan?

5oUJpwciI4

Manusia hidup dengan teknologi dan teknologi mengubah gaya hidup manusia. Teknologi kini menjadi tulang punggung manusia dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari membantu pekerjaan, bidang kesehatan, pendidikan, hingga untuk pengelolaan makanan dan minuman.

Hari berganti hari, teknologi terus berkembang agar makin sempurna. Bahkan dalam perkembangannya, ukuran suatu benda menjadi lebih kecil, namun memiliki kapasitas besar dan memiliki manfaat jauh lebih besar. Perkembangan ini menyentuh ke hampir setiap aspek yang berhubungan dengan manusia.

Terkait ukuran yang kecil, saat ini nano teknologi merupakan salah satu teknologi tercanggih yang dibuat oleh manusia. Nano teknologi pertama kali ditemukan oleh ilmuwan fisika Richard Feynman pada 1959. Namun pada tahun itu, Feynman baru memaparkan konsep saja, karena belum ada alat yang mampu melihat benda yang sangat kecil karena struktur nano belum bisa dilihat secara langsung.

Yang menjadi pertanyaan, sekecil apakah nano itu? Profesor Bidang Elektronika Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Pusat Teknologi Material, Ratno Nuryadi, memaparkan bahwa nano merupakan ukuran teknologi itu sendiri. Benda yang berukuran sangat kecil memiliki satuan nano meter.

“Kalau kita hidup di ukuran meter. Lebih kecilnya centimeter, kemudian milimeter. Lebih kecilnya lagi ukuran mikrometer 10 pangkat minus enam. Nah, di bawahnya lagi ada nano meter 10 pangkat minus sembilan meter,” ujar Ratno kepada Metrotvnews.com, saat ditemui di kantor pusat Puspiptek, Serpong, Tangerang, beberapa waktu lalu.

Untuk lebih mudah memahaminya, Ratno mengambil contoh sebutir pasir. Ia mengibaratkan nano seperti butiran pasir yang saling berkumpul sehingga jumlahnya menjadi banyak.

“Nano itu seperti butiran pasir, namun ukurannya lebih kecil lagi dan jumlahnya banyak,” ucap peneliti Puspiptek ini.

Ratno menjelaskan bahwa nano teknologi merupakan teknologi yang menggunakan sesuatu yang berhubungan dengan material. Dalam definisinya, nano meter berada di antara 1 hingga 106 nano meter. Di atas itu, sebutannya sub micron.

“Sub micron teknologi. Kalau micron kan 10 pangkat enam. Sub micron 100 nano meter. Lebih dari itu hingga 1.000 nano meter atau yang disebut sub micron. Kalau nano teknologi, di bawah itu,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, para peneliti berhasil menciptkan mikroskop yang mampu melihat struktur nano seperti scanning electron microscope (SEM), transmission electron microscope (TEM),  atomic force microscop (AFM), dan mikroskop nano. Menurutnya, inovasi tersebut mulai muncul pada tahun 80-an. Sedangkan, nano teknologi mulai dikenal sekitar tahun 2000-an.

Nano Teknologi dan Manfaatnya dalam Kehidupan

Tanpa kita sadari, nano teknologi sebenarnya terdapat pada alat-alat yang sehari-hari digunakan, seperti smartphone, komputer, pakaian, mobil, bahkan makanan.

Ratno menjelaskan, nano teknologi tidak hanya dimanfaatkan untuk keperluan IT, namun juga merambah pada bidang-bidang lainnya.

“Ternyata material itu kan macam-macam. Tadi baru bicara elektronik, diikuti material kimia bidang biologi. Jadi di situ perkembangannya luar biasa, sehingga nano teknologi  selain elektronik, kimia, dan biologi ada juga disebut nano biology, sehingga multidisiplin. Sekarang, stakeholder dan pemangku kebijakan pun akhirnya ada juga yang berpikir ke sana (multidisiplin),” ucap penemu alat pengukur nano pertama di Indonesia ini.

Untuk makanan, misalnya. Ratno menjelaskan, nano teknologi digunakan untuk membuat makanan menjadi tahan lama. Untuk mobil, kadar gelap dari kaca film menggunakan nano teknologi. Ia menyebutkan, saat ini sedang ada penelitian bahwa baju tidak akan bau meskipun dipakai seharian berkat nano teknologi.

Oleh sebab itu, saat ini banyak industri yang menggunakan nano teknologi dalam meningkatkan kualitas produknya seperti industri pengolahan pangan, industri tekstil, industri kimia farmasi, industri baja, dan masih banyak industri lainnya. Industri di Indonesia banyak yang menggunakan nano teknologi.

Salah satu perusahaan yang sudah menerapkan  nano teknologi pada produknya adalah PT Kalbe Farma Tbk. Selain itu, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik juga sudah menerapkan nano teknologi. “Dalam revolusi industri, nano teknologi diprediksi akan mencuat ke depannya,” kata Ratno.

Meskipun sudah banyak industri yang menggunakan nano teknologi, Ratno menyayangkan bahan dasar untuk pembentukan nano tersebut masih banyak diimpor. Sebagian besar bahan dasarnya diimpor dari Tiongkok. Hal ini seiring dengan banyaknya publikasi riset dari negeri tirai bambu tersebut. Selain Tiongkok, industri juga mengimpor dari Jepang dan Jerman.

“Hampir 90 persen kita mengimpor. Padahal, kita kaya akan sumber daya alam. Ini menjadi tantangan para peneliti bagaimana bisa memanfaatkan kekayaan alam yang kita punya. Jangan-jangan karena kita sering ekspor bahan alami, ternyata di sana diolah, kemudian masuk lagi ke sini sudah dalam bentuk barang jadi,” ujar Ratno.

Ia mengharapkan ada sinergi antara pemerintah dan swasta dalam memanfaatkan kekayaan alam untuk kepentingan teknologi. Apalagi, Indonesia memiliki banyak peneliti di bidang nano teknologi yang tersebar di beberapa universitas (46 persen), lembaga pemerintah non-departemen (47 persen), kementerian (4,5 persen), dan industri (2,4 persen). Para peneliti tersebut mayoritas berumur antara 31 hingga 40 tahun.

“Arahan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) berharap nano teknologi tidak hanya berhenti di riset, namun ingin hasil risetnya terhilirisasi ke industri. Kita juga sudah bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan membuat roadmap ke industri,” ujar Ratno.

Sumber: http://news.metrotvnews.com/peristiwa/nbw16ODK-apa-saja-manfaat-nano-teknologi-di-bidang-pangan-kosmetik-dan-kesehatan