Resident Company

PT. Hidrolab Naval Indonesia

Kapal Selam Nirawak Buatan Anak Bangsa Ini Siap Lindungi Laut Nusantara.

Kapal selam nirawak ini merupakan hasil kerja sama antara PT Hidrolab Naval Indonesia dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, didukung oleh TBIC Puspiptek. Ada tiga jenis kapal selam nirawak yang dihasilkan dari kerja sama tersebut, salah satunya adalah sebuah kapal nirawak bernama Yellow Juku.

Kapal Selam Nirawak Yellow Juku
Penamaan 'Juku' diambil dari bahasa Makassar yang berarti ikan. Dinamakan seperti itu sebab alat ini memang dirancang untuk memperoleh data-data yang ada di dalam laut. Sea glider ini dirancang untuk memperoleh data-data apa pun yang ada di dalam laut, bisa data tentang populasi ikan di suatu perairan untuk mengetahui jika ada illegal fishing, dan lain-lain. Kapal selam ini bisa menyelam hingga kedalaman maksimal satu kilometer di bawah laut.

Konsep Selam Nirawak Juku

Prinsipnya, Yellow Juku ini mengambil air, sehingga bisa menyelam. Kemudian Yellow Juku mengeluarkan kembali air tersebut, sehingga bisa kembali ke permukaan. Selama berjalan, (Yellow Juku, red.) selalu memasukkan dan mengeluarkan air, sehingga pergerakannya seperti glider (peluncur) yang turun naik ke permukaan laut.

Yellow Juku dilengkapi dengan baterai yang mampu membuatnya bertahan hingga satu tahun di bawah permukaan laut. Kapal ini dilengkapi dengan artificial inteligent atau kecerdasan buatan yang membuat Yellow Juku mampu bermanuver ke laut lepas untuk melakukan pengawasan di permukaan laut.

Selain itu, kapal selam ini juga dilengkapi dengan berbagai sensor yang disesuaikan dengan kebutuhan. Juku memiliki berbagai sensor untuk mengenali bagaimana kondisi laut.

Penandatanganan PKS antar Puspiptek dengan PT. Hidrolab Naval Indonesia

Sensor yang dihadirkan antara lain adalah untuk membaca kandungan plankton. Kalau banyak plankton, artinya laut tersebut banyak ikannya.
Selain itu Yellow Juku juga dibekali sensor kecerdasan buatan untuk mengenali suhu, kadar garam, dan parameter lainnya yang ada di dalam lautan, yang selama ini belum bisa dijangkau.

Jika Juku memiliki informasi atau data tentang kondisi laut di suatu lokasi, Juku bisa mengirimkannya ke satelit dan mengirim data tersebut kepada pengontrol. Tetapi, proses pengiriman data ke satelit hanya bisa dilakukan, jika Juku sedang muncul ke permukaan, bukan saat di bawah permukaan laut.

Dengan mengetahui data potensi perikanan, nelayan pun dapat terbantu dalam mengumpulkan ikan. Selain itu, KKP juga akan mempunyai data demografis nelayan, sehingga, Juku akan memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

Untuk Kementerian Pertahanan, Juku mampu mendeteksi kondisi bawah laut Indonesia.

Sumber :

https://defence.pk/pdf/threads/indonesia-defence-forum.229571/page-727

http://tekno.liputan6.com/read/2573989/kapal-selam-nirawak-bikinan-indonesia-ini-siap-lindungi-laut

PT. Ctech Lab Edwar Technology

CTECH Labs EdWar Technology didirikan oleh DR. Warsito P. Taruno yang telah berpengalaman selama lebih dari 20 tahun di bidang tomography. Sejak 2017, perusahaan ini bergabung sebagai resident di TBIC Puspiptek.

CTECH Labs Edwar Technology memiliki beberapa divisi R&D, yaitu:

  • Electronic Science and Technology:
    • High Performance Computing and Software Engineering;
    • Sensor Technology;
    • Biophicis and Biomoleculer
  • Applied Research Division:
    • Non Destructive Testing;
    • Industrial Process Imaging;
    • Medical Phisics and Biomedical Imaging
    • Cancer Clinical Research.


ECVT dan ECCT

Tomography adalah metode untuk menampilkan gambar sebagian objek di dalam tubuh manusia atau benda berbentuk solid lainnya melalui gelombang X-rays atau ultrasound. Tomography dapat memindai suatu obyek tanpa harus menyentuh badannya. DR. Warsito melakukan penelitian mengenai Electrical Engineering pada saat menempuh pendidikan S3nya di Jepang. Beliau mengembangkan teknologi ECVT (Electro Capacitance Volume Termography) atau scan 4 dimensi pada tahun 2004. Disebut 4 dimensi karena hasil scan menunjukkan volume massa target obyek dan dengan real-time. Teknologi ini juga telah digunakan oleh NASA untuk mendeteksi objek diluar badan pesawat antariksa. Teknologi yang dikembangkan oleh DR. Warsito di CTECH Labs EdWar Technology adalah ECVT dan ECCT (Electro-Capacitative Cancer Therapy). ECCT adalah alat pembunuh sel kanker yang menggunakan gelombang listrik sebesar 10 – 30 volt, sehingga tidak membahayakan dan membutuhkan sumber energi listrik yang rendah.

Cancer Therapy Clinical Research

ECVT Breast System

Hasil scan ECVT berupa citra 4 dimensi dan grafik aktivitas listrik sel yang menunjukkan indeks aktivitas listrik sel, volume sel aktif (%), dan volume sel aktif (cm³). Indeks aktivitas listrik sel memiliki range dari 0-1. Jika > 0.30 maka kecenderungan tumor ganas/kanker. Semakin kecil nilai aktivitas maka akan semakin pasif selnya dan semakin aman dari metastase. Volume sel aktif (%) adalah persentase keseluruhan sel aktif yang ada di payudara. Ukuran 100 persennya adalah luasan sensor (cup) nya. Sedangkan volume sel aktif (cm³) adalah volume keseluruhan sel aktif yang ada di payudara. Indeks aktivitas listrik sel yang tercatat pada hasil scan adalah indeks aktivitas listrik sel yang tertinggi dari keseluruhan sel aktif yang ada di payudara. Payudara normal tidak memiliki aktifitas listrik sel dan volume massa aktif.

Rompi Anti Kanker

ECCT berbentuk kostum yang dipasang di badan sesuai dengan jenis kankernya. Kostum yang ada saat ini berupa bra untuk kanker payudara, penutup kepala untuk kanker otak, dan celana untuk kanker serviks atau prostat. Sedangkan untuk menghindari penyebaran ke tulang dan organ tubuh lainnya, kostum ECCT berupa rompi mantel yang panjangnya sampai ke paha orang dewasa.