Kategori

Berita

KICK-OFF INKUBASI BISNIS TEKNOLOGI 2018, SOSIALISASI IRRADIATOR “MERAH-PUTIH”, DAN LAUNCHING EKSPOR PERDANA PRODUK TENAN TBIC-PUSPIPTEK

KICK-OFF INKUBASI BISNIS TEKNOLOGI 2018, SOSIALISASI IRRADIATOR “MERAH-PUTIH”, DAN LAUNCHING EKSPOR PERDANA PRODUK TENAN TBIC-PUSPIPTEK

Kategori: Berita | Tanggal: 2018-03-01 08:45:14 | Tanggal Pembaruan: 2018-03-12 14:40:56 | Oleh: Admin


Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, secara resmi melakukan kick-off sebagai tanda dimulainya kegiatan inkubasi bisnis teknologi Tahun 2018 di Fasilitas Technology Business Incubation Center (TBIC) – Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan Teknologi (Puspiptek). Kegiatan kick-off tersebut dilaksanakan pada Hari Selasa (28/02) bertempat di Auditorium Graha Widya Bhakti – Kawasan Puspiptek Kota Tangerang Selatan.

Kegiatan ini dirangkaikan dengan sosialisasi fasilitas Irradiator “Merah-Putih” milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), kepada sekitar 350 pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) se- Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor, yang tergabung dalam Forum “Tangsel Berdaya” dan “Bogor Berdaya”.

Dalam sambutannya, Menristekdikti menekankan pentingnya untuk meningkatkan jumlah wirausaha (enterpreneur) di Masyarakat, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaya saing. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah pada tahun 2016 menunjukkan bahwa pertumbuhan entrepreneur Indonesia masih sangat kecil yaitu hanya 1,6% dari populasi penduduk Indonesia. Sementara di negara-negara ASEAN, seperti Singapura jumlah wirausahanya tercatat sebanyak 7% dari jumlah penduduk, sedangkan Malaysia 5%, Thailand 4,5%, dan Vietnam 3,3%.

“Hal ini kenapa Indonesia masih tertinggal dikarenakan perdagangan di Indonesia masih berbasis budaya, bukan berbasis kepada teknologi sehingga pertumbuhannya melambat” demikian menurut Menteri Nasir. Lebih lanjut Menristekdikti menjelaskan bahwa kalau industri pemula yang berbasis teknologi seperti start-up bisa terus didorong dan dikembangkan, Indonesia bisa bergerak lebih maju.

Oleh karena itu, Menristekdikti mengapresiasi semua pihak yang terus-menerus bersinergi untuk mambangun dan mengembangkan wirausaha pemula (start-up) berbasis teknologi. Kemenristekdikti sendiri melalui berbagai program menargetkan setidaknya bisa melahirkan 1000 perushataan start-up berbasis teknologi, baik melalui program inkubasi bisnis teknologi, maupun mendorong spin-off pada industri-industri yang berbasis inovasi.

Sejak dibangunnya fasilitas Technology Business Incubation Center (TBIC) pada Tahun 2016 sebagai bagian dari Program Revitaslisasi Puspiptek sebagai National-Science and Technology Park (N-STP), Puspiptek telah melaksanakan kegiatan inkubasi bisnis teknologi untuk menumbuhkan perusahaan-perusahaan baru, yang mengkomersialisasikan produk-produk teknologi hasil litbang, khususnya yang dihasilkan oleh atau bermitra dengan lembaga-lembaga litbang yang ada di Puspiptek. Fasilitas TBIC yang berada di Zona Bisnis Teknologi Puspiptek, selain digunakan untuk proses inkubasi, juga dapat digunakan oleh tenan yang sudah lulus (graduated) untuk melakukan produksi skala pilot dan mengembangkan usahanya.

Menurut Kepala Puspiptek Sri Setiawati, perkembangan start-up yang dibina melalui proses inkubasi cukup menggembirakan. “Tahun ini ada dua perusahaan yang lulus dari inkubator di TBIC, melanjutkan ke tahapan scaling-up produksinya di area Zona Bisnis Teknologi yaitu PT. Djava Sukses Abadi dengan merk produk ‘Mangano’, serta PT. Nano Herbal Indonesia dengan Produk ‘Nano Propolis’ dan ‘Nano Chitosan’. Kedua Perusahaan start-up ini telah menunjukkan perkembangan usaha yang sangat baik. Bahkan ‘Mangano’ sejak Bulan Februari 2018 ini ekspor ke Korea Selatan”, Tutur Kepala Puspiptek. Dalam kesempatan yang sama, Menristekdikti secara simbolik melakukan launching ekspor perdana produk tenan tersebut.

Pada Tahun 2018, telah terpilih 22 calon wirausaha pemula berbasis teknologi sebagai peserta program inkubasi bisnis teknologi di TBIC, dari 102 pendaftar yang mengikuti proses seleksi. Seluruh produk tenan yang lulus seleksi dinilai memiliki prospek bisnis yang potensial, dan telah berada pada tingkat kesiapan teknologi minimal level-7. Program inkubasi bisnis teknologi diarahkan pada 3 aspek utama, yaitu: (1) validasi dan legalisasi produk, (2) pengembangan bisnis, serta (3) perluasan pasar.

Sementara itu, Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto menyampaikan sosialisasi mengenai penggunaan Irradiator Gamma yang diberi nama Irradiator Gamma Merah-Putih (IGMP), kepada pelaku UMKM. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan untuk proses pengawetan produk pangan, alat kesehatan, produk farmasi, dan kosmetika. “Pengawetan produk dengan teknologi Irradiator ini, memberikan manfaat lebih karena lebih aman, murah, dan tidak berdampak buruk pada produk maupun kesehatan konsumen, tanpa perlu penambahan zat kimia sebagai pengawet” Demikian penjelasan Kepala BATAN. Fasilitas IGMP merupakan hasil kerja sama antara BATAN dengan pihak Izotop Hongaria yang dibangun di kawasan Puspiptek, dan telah  memperoleh izin Badan Pengawas Teknologi Nuklir (Bappeten).

Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, menyambut baik program-program yang dikembangkan di Puspiptek, karena dirasa bermanfaat dan berdapak langsung kepada masyarakat khususnya masyarakat di Kota Tangerang Selatan. “Kami mendorong agar pelaku-pelaku UMKM di Kota Tangerang Selatan dapat memanfaatkan secara maksimal keberadaan Puspiptek serta program-program dan fasilitas di dalamnya untuk mendukung peningkatan daya saing UMKM”, tuturnya.