SEMINAR ON TECHNOPRENEURSHIP PUSPIPTEK DAN UNIVERSITY OF APPLIED SCIENCES AND ARTS NORTWESTERN SWITZERLAND

Kategori: Berita | Tanggal: 2017-04-11 10:28:59 | Update: 2017-05-02 10:39:25 | Oleh: Admin TBIC


SEMINAR ON TECHNOPRENEURSHIP PUSPIPTEK DAN UNIVERSITY OF APPLIED SCIENCES AND ARTS NORTWESTERN SWITZERLAND

PUSPIPTEK menyelenggarakan “Seminar on Technopreneurship”, pada tanggal 11 April 2016. Seminar ini bekerjasama dan diikuti oleh peserta dari University of Applied Sciences and Arts Nortwestern Switzerland (FHNW) melalui program “exploreASEAN”


Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) menyelenggarakan “Seminar on Technopreneurship”, pada tanggal 11 April 2016. Seminar ini bekerjasama dan diikuti oleh peserta dari  University of Applied Sciences and Arts Nortwestern Switzerland (FHNW) melalui program “exploreASEAN”. Kegiatan ini juga melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan perguruan tinggi di sekitar kawasan Puspiptek yaitu: Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Bina Nusantara (Binus), Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Swiss German University (SGU), Universitas Pamulang, dan Institut Teknologi Indonesia.

Seminar ini bertujuan untuk saling bertukar informasi dan praktik terbaik (best practice) penumbuhan wirausaha baru (start-up) berbasis teknologi, khususnya di kalangan mahasiswa. Disamping itu, juga untuk memperluas jejaring kerjasama antara Puspiptek, FHNW, dan pelaku bisnis/start-up, serta menjadi ajang bertukar pengalaman tentang budaya bisnis di Indonesia dan Swiss.

“Seminar on Technopreneurship” diikuti oleh sekitar 100 orang peserta, terdiri dari mahasiswa, dosen, tenan inkubator (incubatee), serta pelaku bisnis pemula (start-up), termasuk 20 mahasiswa dan 6 dosen dari FHNW. Turut hadir Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) Ainun Na’im; Kepala Puspiptek, Sri Setiawati; Direktur Pembelajaran Kemenristekdikti, Pristiyanti Nurwardani; Direktur Pusat Teknopreneur dan Klaster Industri - BPPT, Dudi Iskandar; dan Direktur STP IPB Dadang Syamsul Munir.

Pada kesempatan tersebut, Sekjen Kemenristekdikti menegaskan pentingnya membangun kewirausahaan di kalangan pemuda dan mahasiswa, sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan perekonomian nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, dan membawa lompatan dari negara dengan pendapatan menengah (middle income country) menjadi negara berpendapatan tinggi. “Indonesia diyakini mampu keluar dari middle income trap  jika berhasil memanfaatkan bonus demografi secara maksimal”, demikian Ainun Na’im. Lebih lanjut Ainun menyampaikan bahwa pada Tahun 2030, Jumlah penduduk muda (usia produktif) Indonesia, usia 15 sampai 60 tahun akan lebih besar dari usia tidak produktif.  Kelompok  penduduk ini jika disiapkan dan dikelola dengan baik, akan mempunyai kapasitas pembangunan yang sangat dahsyat.

Kepala Puspiptek, Sri Setiawati lebih jauh menyampaikan bahwa materi seminar ini sejalan dengan arah fungsi Puspiptek, dimana pemerintah  mendorong peran Puspiptek tidak hanya pada aspek penelitian dan pengembangan teknologi, namun juga proses hilirisasi dan komersialisasi teknologi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi pertumbuhan ekonomi. Dalam kaitannya dengan komersialisasi hasil litbang, salah satu aktivitas Puspiptek adalah penumbuhan wirausaha (entrepreneur) baru berbasis teknologi serta menumbuhkan budaya technopreneurship melalui inkubasi bisnis dan teknologi. “Sejak tahun 2016, Puspiptek telah menjalankan kegiatan inkubasi bisnis teknologi di Technology Business Incubation Center (TBIC)” tandas Sri.

Sementara itu, Direktur Pembelajaran Kemenristekdikti, Pristiyanti Nurwardani menyampaikan kebijakan umum pengembangan kurikulum kewirausahaan mahasiswa di perguruan tinggi Indonesia. Sedangkan Dudi Iskandar menyampaikan kebijakan dan program BPPT dalam mendukung technopreneur dan klaster industri. Konsep dan pengalaman penumbuhan wirausaha pemula melalui inkubasi di IPB dan Puspiptek disampaikan oleh Direktur STP IPB dan Kepala Bidang Kerjasama dan Bisnis Teknologi Puspiptek. Disamping itu,  dua start-up binaan inkubator TBIC Puspiptek yaitu PT. Nano Herbal Indonesia dan PT. Eternal Teknologi Indonesia, berkesempatan menyampaikan  success story dalam komersialisasi produknya melalui pembinaan di inkubator bisnis teknologi.

Setelah pelaksanaan seminar, peserta berkunjung ke Pusat Pengembangan Radioisotop dan Radiofarmaka (PPRR) Batan dan Pusat Teknologi Bioindustri/Agroindustri BPPT, untuk melihat program dan produk riset yang sudah dikomersialisasikan oleh industri.